← All Posts

AI Fatigue, sebuah Euforia

Gambling pertama yang saya ambil selama menjalani karir sebagai Software Engineer

Bulan ini saya memutuskan untuk Resign dari pekerjaan utama saya sebagai Software Engineer di sebuah perusahaan Jepang, dan ini kali pertama saya mengumumkan keputusan semacam ini di sosial media (instagram) karena keuputusan kali ini sangat spesial. Kali ini saya resign tidak dengan persiapan apapun, tanpa tempat kerja baru, dan ditengah keadaan dimana teman-teman saya banyak terkena layoff pun banyak dari mereka tidak mendapat pekerjaan baru dalam waktu yang lama.

Saya tidak expect bahwa post saya di instagram mendapat banyak tanggapan, tidak seperti post-post saya yang lain, tapi hal yang saya expect adalah tanggapan orang pasti kaget, it’s unpopular decision dan bisa dibilang gambling.

AI Fatigue#

Posisi saya dikantor cukup mentereng, saya mengemban gelar sebagai Technical Architech. sebuah gelar yang bahkan saya tidak pernah menargetkan, tidak saya minta, gelar yang diberikan karena kebetulan saya suka ngoprek banyak hal, seorang frontend yang ended up banyak berkontribusi di infra, backend, architechture.

Sekitar enam bulan lalu saya memimpin process rewrite core product dengan dua objective.

  1. Membangun codebase yang lebih maintainable at scale dan me-remove semua legacy karena produk kami pernah pivot.
  2. Membuat codebase yang sangat ramah untuk Agent, Harness.

proses rewrite itu sukses, management puas, client puas, dan team puas karena objective yang kami target tercapai. siapapun bahkan seorang Project Manager atau C-level yang bahkan tidak dapat menulis HTML dan CSS dengan benar dapat mengerjakan fitur rumit hanya dengan beberapa kali prompt.

Namun prinsip kekebalan energi mengajarkan manusia bahwa energi tidak bisa diciptakan pun tidak dapat dimusnahkan, energi hanya dapat diubah bentuk menjadi bentuk yang lain.

Jika AI dapat mengerjakan tugas dengan sangat cepat, jika fitur dapat berkembang dengan cepat maka prinsip yang sama applied terhadap konsekuensinya, kesalahan juga bisa terjadi lebih cepat, everything scale even the pain. the struggle, the old problems tidak semerta-merta musnah begitu saja it’s just flowing through different medium.

Misal kita ingin konservatif, tetap menjalankan proses code-review yang ketat maka manusia akan menjadi bottleneck namun imbalannya, setiap engineer tetap menjadi domain expert, engineer tetap memiliki context yang kuat terhadap system dan codebase. then what’s the point of AI? tentu skenario ini less likely happens karena pasti skenario ini tidak akan disukai management.

Tiga Fase Adopsi#

  1. Pada fase pertama team biasanya cenderung konservatif, proses code review masih super ketat, atau bahkan test suite masih ditulis manual oleh para engineers.

  2. Fase kedua adalah ketika code yang dihasilkan AI lebih sering benar daripada salah, pada fase ini trust mulai terbentuk terhadap AI dan proses code review sedikit lebih longgar, mungkin beberapa engineer mulai mempercayakan test suite kepada AI dan proses code review mulai banyak skimming.

  3. Fase ketiga ketika engineers mulai mempercayakan seluruh proses kepada AI, bisa dibilang pada fase ini AI berperan sebagai compiler dan bahkan proses code review dilakukan oleh AI yang lain.

Keadaan ditempat kerja saya sudah pada fase ketiga, saya sudah sangat jarang coding manual, melakukan code review lebih banyak skimming atau mendelegasikan kepada agent, expertise saya terhadap system dan codebase menurun setiap harinya, kepercayaan diri saya akan pekerjaan yang saya deliver menurun dan jika sebuah incident terjadi, rasa kecemasan saya meningkat ke level yang benar-benar tidak sehat. it just difference struggles tapi saya tidak mendapat manfaat yang sama dari struggle sebelum saya mendelegasikan banyak hal kepada AI.

I’m losing the sparks of being software engineer.

Itu adalah penggalan kata yang saya katakan kepada atasan saya saat mengajukan resign.

The Iron Triangle#

Iron Triangle

Salah satu prinsip yang selalu saya ingat saat mengambil sebuah keputusan dan menjadi salah satu compass saya adalah Iron Triangle, dimana tiga sudutnya merepresentasikan attribut Cost, Quality, dan Time. Aturannya sederhana, dalam segala aspek dalam kehidupan ini kita hanya dapat memilih dua attribut

  • Jika ingin Murah dan Berkualitas maka harus Lama
  • Jika Ingin Murah dan Cepat maka kita tidak mendapat kualitas
  • Jika ingin Berkualitas dan Cepat maka kita harus membayar mahal

Jika ada orang yang menawarkan kita hal yang memiliki ketiganya sudah pasti itu scam! prove me wrong!

Salah satu Utopia AI dari Elon Musk yang terkenal adalah Visi Elon suatu saat nanti ketika kita sudah mencapai AGI (Artificial General Intelegence) atau bahkan Super Intelegence, manusia tidak perlu lagi memproduksi makanan, tidak perlu lagi bekerja, tidak perlu lagi belajar super keras untuk membuat game yang memukau karena semua itu akan digantikan oleh robot dan AI, manusia hanya fokus bersosial, bersenang-senang, sarungan moco koran. terdengar seperti surga.

Tapi saya tidak percaya Utopia itu, bukan karena saya sudah menghitung setiap kemungkinannya atau punya teori kuat atas Dystopianya tapi saya sendiri sudah pernah merasakan rasanya setiap hari bermain game, nonton film, rebahan, dan itu hanya selama dua minggu dan saya yakin saya tidak ingin menjalani hidup yang seperti itu lagi. Saya rasa hal yang sama juga diucapkan oleh Raditya Dika pada banyak podcast bahwa meski saat ini ia telah mencapai financial freedom, ia memilih untuk tetap bekerja dan berkarya karena khawatir saat membaca testimoni orang lain yang telah pensiun dini dan tidak bekerja malah lebih mudah stress dan bosan.

Maka simpelnya, segalanya memiliki trade-off.

Saya memilih resign dengan alasan AI bukan berarti saya menolak AI, kita tidak dapat menolak perubahan. Saya memilih resign karena berada didalam lingkaran euforia, dengan adanya AI banyak orang merasa mendapatkan tiga attribute Iron Triangle sekaligus, terutama top management perusahaan.

Pilihannya adalah, jika saya ingin tetap mengikuti proses engineering dengan normal, melakukan code review dengan teliti, gather segala detil teknis seperti biasanya maka secara otomatis saya tidak akan perform, karena at this point I can’t keep up with AI pace. maka untuk perform, saya harus mengurangi keterlibatan saya terhadap prosesnya, mengurangi detil yang perlu saya ketahui, dan itu adalah trade-off yang saat ini tidak mau saya ambil.

Saya resign dan memutuskan untuk mengambil jeda sejenak, saya sedang bertani btw.

Pada jeda ini saya ingin belajar lebih keras, menjadi stubborn yang kekeuh mempertahankan raw skill. Saya tidak berhenti pun menyerah pada Software Engineering, Sejauh ini kerja keras dan ilmu pengetahuan masih belum menghianati saya, saya tidak mau berhenti coding, saya tidak ingin melewatkan coding dalam proses software engineering sama halnya seorang pendaki tidak ingin menaiki helikopter untuk mencapai puncak.

Seorang Stubborn, 7 Juni 2026 - 02:59 AM.